puisi bulan ramadhan
Ramadhan
Datang kau perlahan,
bersama cahaya sahur
dan doa yang bergetar di bibir pagi.
Langit menahan lapar kami,
bumi mengajarkan sabar,
waktu berjalan lebih lembut
di antara takbir dan tasbih.
Ramadhan,
kau puasa raga dan gaduh jiwa,
membersihkan luka yang tak sempat kami sebut namanya.
Di senja yang harum kolak,
kami belajar menunggu—
bahwa tidak semua yang ingin
harus segera digenggam.
Dan ketika malam bersujud panjang,
ampun turun seperti hujan pelan,
menghapus jejak salah,
menumbuhkan harap yang baru.
Komentar
Posting Komentar